Renungan Nyepi : Bukan Sekadar Simbol, Tapi Esensi…

ogoh-ogoh
ogoh-ogoh

Nyepi, Tahun Baru  yang dirayakan secara sepi oleh umat Hindu di Bali, jatuh di Bulan Maret di 2010, tepatnya tanggal 17 .
Ada beberapa rangkaian Upacara sebelum hari raya nyepi ini misalnya Melasti, Pengrupukan , nyepi itu sendiri dan Ngembak geni.
Di Bali , perayaan nyepi ini , khususnya pada pengrupukan (nyepi-1) , diwarnai pawai ogoh -ogoh.
Secara umum, bentuk ogoh ogoh itu sendiri adalah seperti ondel ondel.
Ogoh ogoh adalah perlambang / wujud dari sifat raksasa / bhuta kala , yang dalam ajaran Hindu merupakan “the Bad Side”
Saya kurang tahu persis kapan ogoh ogoh ini mulai dibuat di Bali.
Sepengetahuan saya, yang saya baca di Sebuah harian lokal di bali dan website Parisada Hindu , disebutkan Ogoh-ogoh mulai dibuat sekitar tahun 1980-an.

dari kutipan website PHDI :
Sejak tahun 1980-an, umat mengusung ogoh-ogoh yaitu patung raksasa. Ogoh-ogoh yang dibiayai dengan uang iuran warga itu kemudian dibakar. Pembakaran ogoh-ogoh ini meru-pakan lambang nyomia atau menetralisir Bhuta Kala, yaitu unsur-unsur kekuatan jahat.

Ogoh-ogoh sebetulnya tidak memiliki hubungan langsung dengan upacara Hari Raya Nyepi. Patung yang dibuat dengan bam-bu, kertas, kain dan benda-benda yang sederhana itu merupakan kreativitas dan spontanitas masyrakat yang murni sebagai cetusan rasa semarak untuk memeriahkan upacara ngrupuk. Karena tidak ada hubungannya dengan Hari Raya Nyepi, maka jelaslah ogoh-ogoh itu tidak mutlak ada dalam upacara tersebut. Namun benda itu tetap boleh dibuat sebagai pelengkap kemeriahan upacara dan bentuknya agar disesuaikan, misalnya berupa raksasa yang melambangkan Bhuta Kala

Kita hargai dan memberi apresiasi untuk saudara saudara di bali yang sudah susah payah , menelurkan ide dan kreatifitas lewat ogoh-ogoh.
Demikian juga Sebagai bentuk bakti dan rasa gotong royong

Sejalan dengan perkembangannya, Arak arakan ogoh-ogoh, oleh oknum tertentu, menjadi arena yang kurang sehat.
Mencoreng makna nyepi itu sendiri. Minum minuman keras , layaknya bhuta kala itu sendiri. Potensi hal negatif pun menganga.
Beberapa tahun lalu, Ogoh ogoh sempat dilarang, mengingat kondisi keamanan di atas.
Sungguh sebuah ironi.

Hal yang terlupakan dari ogoh ogoh ini adalah esensi ogoh-ogoh dan nyepi umumnya.
Ogoh ogoh cuma simbol, bukan dewa dan pujaan kita. kasarnya, Tanpa Ogoh ogoh, nyepi pun masih bisa kita jalani.
Jika memang ingin menyalurkan kreatifitas di ogoh ogoh, buatlah sesuai kemampuan, tidak usah nodong dan meminta sumbangan kesana kesini.
Konsep yadnya, dengan tulus ikhlas harusnya bisa kita resapi.
Silahkan arak ogoh-ogoh dengan tertib, akan kita beri salut dan hormat.
Tapi dengan minuman keras, petasan dan perkelahian di prosesi ogoh -ogoh , saya rasa anda tidak memahami esensinya.

Saya paham,jamannya sudah Jaman kali yuga.
Semua yang buruk seolah ada toleransinya.
Saya juga tidak munafik, kalau saya bukan orang suci dan pasti memiliki banyak dosa.
Tapi, kita bisa mulai dari diri sendiri, sedikit demi sedikit, memahami esensi  ajaran.

Mudah mudahan kita selalu diberi pencerahan id Nyepi yang hening ini.
bukan seperti IKLAN PENYEDIA INTERNET di Bali Post halaman depan, tgl 14 maret 2010,2 hari  sebelum nyepi : INTERNET SEPUASNYA DI NYEPI 2010 …duhhhhhhh
Iklan begini kok di bagian depan..

sekali lagi, mari pahami esensi, bukan sekadar prosesi.

Post Your Comment Here

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: