Kampanye Terbuka ,Dangdut , Baju Kaos dan Ambisi politik

goyang-dangdut-kampanye
goyang-dangdut-kampanye

Kampanye di lapangan terbuka  memang sudah saatnya ditinggalkan…
Lebih banyak sisi negatif dari sisi positif yang ditimbulkannya.
Pengalaman saya kemarin, saat kampanye sebuah partai di Bali , kampanye terbuka sebuah partai malah menimbulkan antipati pemakai jalan..
Puluhan pengendara memaki maki..
Sudah 15 kali lampu merah-hijau berganti , pemakai jalan tidak bisa lewat…sialan…kata bapak di sebelah, yang akan berangkat kerja ke daerah nusa dua..
Sepertinya pemimpin partai yang lewat, diiringi oleh konvoi kampungan dari pendukungnya..
Sama sekali tidak tertib dan mengganggu..
Anak kecil dibonceng dengan kecepatan tinggi dan tanpa helm..
Atribut partai membuat laju motor tidak stabil.
Teriak teriak kayak orang gila.
Saya heran, dengan tingkah seperti ini mereka ingin partainya dipilih atau mendapat simpati..
SIALAN…
Suruh saja orang yang buta dan tuli untuk memilih anda dan partai anda..
MEMALUKAN….
Saat teknologi makin canggih, rasanya sudah saatnya kampanye terbuka  di lapangan ditinggalkan.
Kampanye model ini cuma ajang bagi baju kaos dan nonton dangdut..
Dangdut menjadi senjata menarik massa. Saya yakin, kebanyakan orang datang karena ingin melihat goyang dangdut atau artis, dan cuma sebagian kecil yang memang didorong kecintaannya terhadap partai…
Yang datang kampanye, orangnya sama.percaya tidak percaya…
Goyang dangdut , dipakai untuk menutupi ambisi mereka.
Mereka bicara partai saja, bukan bicara rakyat..
Atau kalau mereka bicara rakyat, cuma atas nama rakyat saja…
Mereka harusnya bilang KITA bukan KAMI...
Daerah dipecah dengan partai partai..
Politikus terlalu genit mendirikan partai..
Cukup kumpulin KTP , fotocopy, jadilah sebuah partai..
huuuhhhhh..pusing..

Banyak yang mencari topik ini

One Reply to “Kampanye Terbuka ,Dangdut , Baju Kaos dan Ambisi politik”

David

April 16, 2009 at 6:23 am

MENGGUGAT PUTUSAN SESAT HAKIM BEJAT

Putusan PN. Jkt. Pst No.Put.G/2000/PN.Jkt.Pst membatalkan Klausula Baku yang digunakan Pelaku Usaha. Putusan ini telah dijadikan yurisprudensi.
Sebaliknya, putusan PN Surakarta No.13/Pdt.G/2006/PN.Ska justru menggunakan Klausula Baku untuk menolak gugatan. Padahal di samping tidak memiliki Seritifikat Jaminan Fidusia, Pelaku Usaha/Tergugat (PT. Tunas Financindo Sarana) terindikasi melakukan suap di Polda Jateng.
Ajaib. Di zaman terbuka ini masih ada saja hakim yang berlagak ‘bodoh’, lalu seenaknya membodohi
dan menyesatkan masyarakat, sambil berlindung di bawah ‘dokumen dan rahasia negara’.
Statemen “Hukum negara Indonesia berdiri diatas pondasi suap” (KAI) dan “Ratusan rekening liar terbanyak dimiliki oknum-oknum MA” (KPK); adalah bukti nyata moral sebagian hakim negara ini sudah terlampau sesat dan bejat. Dan nekatnya hakim bejat ini menyesatkan masyarakat konsumen
Indonesia ini tentu berdasarkan asumsi bahwa masyarakat akan “trimo” terhadap putusan tersebut.
Keadaan ini tentu tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Masyarakat konsumen yang sangat dirugikan
mestinya berhak mengajukan “Perlawanan Pihak Ketiga” dan menelanjangi kebusukan peradilan ini.
Siapa yang akan mulai??

David
HP. (0274)9345675

Reply

Post Your Comment Here

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: