Jalan jalan lagi : Penebel – Jatiluwih – Belulang

warung-air-panas-belulang
warung-air-panas-belulang
jatiluwih
jatiluwih
sawah jatiluwih
sawah jatiluwih

Minggu, setelah libur beruntun Galungan, kuningan dan Nyepi, rasanya minggu-minggu ini enak untuk keluar kota.
Dari hasil mikir mikir dan mikir, saya putuskan ke Jatiluwih, Penebel, Tabanan.
Apa sih yang terkenal dan jatiluwih ?
upss..
Sawah? iya , sawah.. Sawah ini memang mirip dengan sawah yang ada di tempat lain di Bali.
sawah nya berundak undak, istilah londonya : rice terrace..
Yang membedakan adalah luasnya yang nggak karu-karuan..
Jatiluwih memiliki pemandangan alam yang lumayan indah.

Cafe Jatiluwih
Cafe Jatiluwih

Sebagian besar daerahnya merupakan daerah persawahan yang dibuat berundak (bertingkat) atau dikenal dengan sawah berteras khas Bali .
Daerah persawahan ini berbentuk teras dengan luas sekitar 636 hektar. Sawah ini menggunakan sistem pengairan subak yaitu sistem pengairan atau irigasi tradisional Bali yang berbasis masyarakat.
Keunikan sawah berteras inilah yang membuat Jatiluwih dinominasikan masuk daftar UNESCO World Heritage sebagai warisan budaya dunia.
Sayang jatiluwih gagal dijadikan warisan budaya dunia (The World Heritage). (list untuk update the world heritage ada di http://whc.unesco.org/en/list
Pasalnya, ada perbedaan pandangan antara ahli UNESCO dan ahli dari Bali tentang keberadaannya. Sebelumnya, Bupati Tabanan bersama staf terkait telah berkunjung dan melakukan presentasi di Kantor UNESCO, The World Heritage Center, Paris, Prancis.
Konsep pelestarian lingkungan berbasis budaya, belum memenuhi syarat. Pasalnya, luas areal persawahan yang diajukan sebagai warisan budaya dunia hanya 300 hektar, sementara untuk bisa menjadi warisan budaya dunia dalam bidang lingkungan berwawasan budaya minimal luasnya seribu hektar. Inilah yang menjadi ganjalan Jatiluwih yang mendapatkan nilai luar biasa (outstanding value) dalam penilaian untuk bisa menjadi warisan budaya dunia.
Luas banget …harus ditambah ne..hahah
Padahal sekarang aja, sawah yang ada di jatiluwih sudah sangat luas..puas banget lihatnya..

Road to jatiluwih

nampang
nampang

Kami mengawali perjalanan dari Denpasar…
Menuju arah Lukluk- Kapal – Mengwi – Tabanan, kemudian di kota tabanan kita menuju utara Ke arah penebel.
Lewat desa penebel, kita akan melintasi juga peternakan ayam dengan bau menyengat hehe, kalau nggak salah nama desanya Abahan..
Sebenarnya mulai dari desa penebel, pemandangannya cukup asyik, kiri kanan ada sawah.
Setelah lewat beberapa desa, Ada juga bernama Senganan, dll, kita sampai di jatiluwih…
Mulai kita tengak tengok kiri kanan, cari tempat yang strategis untuk mengintip lewat kamera..
Sayangnya, tidak ada tempat yang lumayan nyaman untuk melihat pemandangan sawah yang luas dan cantik ini.
Kita berhenti di sebuah kafe bernama KAFE JATILUWIH..
Sambil memesan makanan dan minuman (agak mahal untuk backpakers..hahaha.. sebenarnya ada juga warung warung kecil di pinggir jalan..)
Lokasinya lumayan agak di atas, tapi sekali lagi, kabel listrik menjadi halangan kita menikmati pemandangan ini. Belum lagi sikap penduduk yang rasanya kurang pas untuk daerah wisata seperti ini…
Ya, terpaksa turun ke sawah, Fotografer kita (arik – ruangpajang.com), mulai mencoba berbagai posisi.
Tapi rasanya memang tidak ada tempat ideal untuk mengskplorasi pemandangan yang cantik ini..Agak kecewa juga…Apalagi kita datang di siang hari..
Yach mau bagaimana lagi, Arik mencoba sebisanya membuat pose pose cantik…
walau cuma sebentar, tapi dibanding tempat lain, sawah di sini memang agak berbeda…
Lumayan, lah timbang liat liat gambar pemandangan lewat Google sehari hari…hahahha..

Lanjut ke air panas Belulang

air-panas-belulang
air-panas-belulang

Masih dekat dari Jatiluwih, dengan mengambil jalan sebelumnya (ke arah tabanan-pulang),lewat info pemilik warung di Penebel, kita mendapat info pemandian air panas Belulang. Letaknya masih dekat dengan penebel, tapi jalannya rusak minta ampun……
Sebenarnya ada alternatif air panas yang lain misalnya angsri (tapi saya sudah kesana sebelumnya,hehe..)
Pemandian air panas Belulang terletakdi Desa Mangesta, Kecamatan Penebel, Tabanan.
Air panas ini berada jauh di dalam. Jadi, para pengunjung yang datang harus berjalan sejauh 200 meter lagi dari tempat parkir. Pengunjung akan disambut candi bentar dan jalan pada sebuah pematang sawah yang sudah ditata sedemikian rupa. Tanpa harus merusak areal persawahan yang ada.
Wisata air panas ini berada di kawasan Pura Luhur Gede Batu Panas, yang merupakan Pura Kahyangan Jagat.
Setiap pengunjung dikenakan biaya retribusi. Untuk wisatawan mancanegara dikenakan biaya Rp 4.000 per orang dan wisatawan domestik Rp 3.000 per orang.
Sebenarnya kesan pertama begitu menggoda (inget iklan AXE..). selanjutnya…..
di jalan masuk, pemandangan cukup apik…tapi sayang , kolamnya sangat kecil dan cuma satu biji…
Padahal pengunjung membludak..wahahhaha
Terpaksa berteduh di bagian luar pura (jaba istilahnya..)untung saja, pura ini cukup enak dipandang dengan background bukit..
yachhh…Ada sih sumber air panas kecil lewat pancuran dekat pura, airnya lumayan panas.. ya.. main air sambil duduk di pematang sawah..
Inget jaman susah dulu..wkakaka..
ya udah, pulangnya, tanpa mandi di air panas, kita makan mie di warung dekat air panas ini,,,lumayan , hujan mulai turun mengguyur…..
yachh, itulah Road to Jatiluwih & Belulang, Penuh kekecewaaan…

Banyak yang mencari topik ini

Post Your Comment Here

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: