• Pantai dreamland,entah apa nama Indonesia atau bahasa Balinya, memang cukup dikenal di kalangan wisatawan lokal atau mancanegara..
    Buat turis mancanegara , pantai ini cukup bagus untuk surfing .
    Ombaknya yang bagus dan lumayan besar..

    Dikenal juga dengan nama New Kuta, mungkin karena pantainya yang memang mirip kuta, kecuali di bagian pantai , yang dihiasi tebing khas daerah bukit kapur pecatu.

    Lokasi pantai ini, adalah di bali selatan..Tepatnya di daerah pecatu, dengan melewati bali pecatu graha (punya mas tommy..).
    Jadi masih satu jalur dari GWK dan ke uluwatu.
    Jika anda belum pernah ke dreamland, tentu anda menyangka ketika masuk pintu bali pecatu graha ,anda harus membayar ke petugas lengkap dengan portalnya..
    no..anda tidak perlu membayar di portal bali pecatu graha..tapi anda membayar di pintu masuk ke parkir dreamland (Rp.15.000/mobil).

    Kiri kanan jalan menuju parkir dreamland dihiasi lapangan golf dan beberapa fasilitas apartemen,residance, hunian mewah tapi masih belum rampung..
    katanya sempat macet sewaktu mas tommy ada di tahanan.
    Pemandangan lumayan indah..

    Dari parkir , anda harus berjalan lagi ke pantai sekitar 1 km. masih jalan berbatu.capek juga turunnya..idem juga pas baliknya..

    Sekilas, kawasan yang mengelilingi dreamland memang terlihat mewah dan elegan..

    uppppsss.

    jangan salah dulu..
    Di parkir mobil, saya jumpai penjual TIPAT (makanan khas bali, mirip gado gado/lotek) , dengan gubuk reyotnya..(di depannya lapangan golf terbentang mewah)
    Ibu penjual TIPAT ini cukup ramah dan komunikatif.
    Firasat saya agak buruk awalnya ketika memesan (dalam hati : sialan, pasti harga tipat di sini 10 ribu-an..di depan apartemen dan lapangan golf sih..kalau nggak lapar nggak bakalan aku beli nihh) .
    tambah Fruit tea satu ah..eh ..ada krupuk juga, ambil aja..sikat..(mumpung tamu saya masih main di pantai dreamland)..
    uenakkk..
    pedas tipatnya….mantap dehh
    dan terakhir, acara bayar..
    DUENGGGGGGG…

    KAGET JUGA..
    kata si ibu penjual tipat : “tipatne telung tali ” (harga tipatnya 3000 ribu perak man!!!!!!)
    hahahhahaha, orang lokal bali ketipu juga…

    Incoming search terms:

    Share on Facebook

    Tags: , , , , , , , , ,

  • warung-air-panas-belulang

    warung-air-panas-belulang

    jatiluwih

    jatiluwih

    sawah jatiluwih

    sawah jatiluwih

    Minggu, setelah libur beruntun Galungan, kuningan dan Nyepi, rasanya minggu-minggu ini enak untuk keluar kota.
    Dari hasil mikir mikir dan mikir, saya putuskan ke Jatiluwih, Penebel, Tabanan.
    Apa sih yang terkenal dan jatiluwih ?
    upss..
    Sawah? iya , sawah.. Sawah ini memang mirip dengan sawah yang ada di tempat lain di Bali.
    sawah nya berundak undak, istilah londonya : rice terrace..
    Yang membedakan adalah luasnya yang nggak karu-karuan..
    Jatiluwih memiliki pemandangan alam yang lumayan indah.

    Cafe Jatiluwih

    Cafe Jatiluwih

    Sebagian besar daerahnya merupakan daerah persawahan yang dibuat berundak (bertingkat) atau dikenal dengan sawah berteras khas Bali .
    Daerah persawahan ini berbentuk teras dengan luas sekitar 636 hektar. Sawah ini menggunakan sistem pengairan subak yaitu sistem pengairan atau irigasi tradisional Bali yang berbasis masyarakat.
    Keunikan sawah berteras inilah yang membuat Jatiluwih dinominasikan masuk daftar UNESCO World Heritage sebagai warisan budaya dunia.
    Sayang jatiluwih gagal dijadikan warisan budaya dunia (The World Heritage). (list untuk update the world heritage ada di http://whc.unesco.org/en/list
    Pasalnya, ada perbedaan pandangan antara ahli UNESCO dan ahli dari Bali tentang keberadaannya. Sebelumnya, Bupati Tabanan bersama staf terkait telah berkunjung dan melakukan presentasi di Kantor UNESCO, The World Heritage Center, Paris, Prancis.
    Konsep pelestarian lingkungan berbasis budaya, belum memenuhi syarat. Pasalnya, luas areal persawahan yang diajukan sebagai warisan budaya dunia hanya 300 hektar, sementara untuk bisa menjadi warisan budaya dunia dalam bidang lingkungan berwawasan budaya minimal luasnya seribu hektar. Inilah yang menjadi ganjalan Jatiluwih yang mendapatkan nilai luar biasa (outstanding value) dalam penilaian untuk bisa menjadi warisan budaya dunia.
    Luas banget …harus ditambah ne..hahah
    Padahal sekarang aja, sawah yang ada di jatiluwih sudah sangat luas..puas banget lihatnya..

    Road to jatiluwih

    nampang

    nampang

    Kami mengawali perjalanan dari Denpasar…
    Menuju arah Lukluk- Kapal – Mengwi – Tabanan, kemudian di kota tabanan kita menuju utara Ke arah penebel.
    Lewat desa penebel, kita akan melintasi juga peternakan ayam dengan bau menyengat hehe, kalau nggak salah nama desanya Abahan..
    Sebenarnya mulai dari desa penebel, pemandangannya cukup asyik, kiri kanan ada sawah.
    Setelah lewat beberapa desa, Ada juga bernama Senganan, dll, kita sampai di jatiluwih…
    Mulai kita tengak tengok kiri kanan, cari tempat yang strategis untuk mengintip lewat kamera..
    Sayangnya, tidak ada tempat yang lumayan nyaman untuk melihat pemandangan sawah yang luas dan cantik ini.
    Kita berhenti di sebuah kafe bernama KAFE JATILUWIH..
    Sambil memesan makanan dan minuman (agak mahal untuk backpakers..hahaha.. sebenarnya ada juga warung warung kecil di pinggir jalan..)
    Lokasinya lumayan agak di atas, tapi sekali lagi, kabel listrik menjadi halangan kita menikmati pemandangan ini. Belum lagi sikap penduduk yang rasanya kurang pas untuk daerah wisata seperti ini…
    Ya, terpaksa turun ke sawah, Fotografer kita (arik – ruangpajang.com), mulai mencoba berbagai posisi.
    Tapi rasanya memang tidak ada tempat ideal untuk mengskplorasi pemandangan yang cantik ini..Agak kecewa juga…Apalagi kita datang di siang hari..
    Yach mau bagaimana lagi, Arik mencoba sebisanya membuat pose pose cantik…
    walau cuma sebentar, tapi dibanding tempat lain, sawah di sini memang agak berbeda…
    Lumayan, lah timbang liat liat gambar pemandangan lewat Google sehari hari…hahahha..

    Lanjut ke air panas Belulang

    air-panas-belulang

    air-panas-belulang

    Masih dekat dari Jatiluwih, dengan mengambil jalan sebelumnya (ke arah tabanan-pulang),lewat info pemilik warung di Penebel, kita mendapat info pemandian air panas Belulang. Letaknya masih dekat dengan penebel, tapi jalannya rusak minta ampun……
    Sebenarnya ada alternatif air panas yang lain misalnya angsri (tapi saya sudah kesana sebelumnya,hehe..)
    Pemandian air panas Belulang terletakdi Desa Mangesta, Kecamatan Penebel, Tabanan.
    Air panas ini berada jauh di dalam. Jadi, para pengunjung yang datang harus berjalan sejauh 200 meter lagi dari tempat parkir. Pengunjung akan disambut candi bentar dan jalan pada sebuah pematang sawah yang sudah ditata sedemikian rupa. Tanpa harus merusak areal persawahan yang ada.
    Wisata air panas ini berada di kawasan Pura Luhur Gede Batu Panas, yang merupakan Pura Kahyangan Jagat.
    Setiap pengunjung dikenakan biaya retribusi. Untuk wisatawan mancanegara dikenakan biaya Rp 4.000 per orang dan wisatawan domestik Rp 3.000 per orang.
    Sebenarnya kesan pertama begitu menggoda (inget iklan AXE..). selanjutnya…..
    di jalan masuk, pemandangan cukup apik…tapi sayang , kolamnya sangat kecil dan cuma satu biji…
    Padahal pengunjung membludak..wahahhaha
    Terpaksa berteduh di bagian luar pura (jaba istilahnya..)untung saja, pura ini cukup enak dipandang dengan background bukit..
    yachhh…Ada sih sumber air panas kecil lewat pancuran dekat pura, airnya lumayan panas.. ya.. main air sambil duduk di pematang sawah..
    Inget jaman susah dulu..wkakaka..
    ya udah, pulangnya, tanpa mandi di air panas, kita makan mie di warung dekat air panas ini,,,lumayan , hujan mulai turun mengguyur…..
    yachh, itulah Road to Jatiluwih & Belulang, Penuh kekecewaaan…

    Incoming search terms:

    Share on Facebook

    Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Sponsored Links